Nama Lengkap: Eko Ramaditya Adikara
Nama Panggilan: Rama
Lahir: 3 Februari 1981
Blog:
http://www.ramaditya.comNick Name: Aurora
1985: TK di kota Semarang. Karena cacat penglihatan yang dideritanya, Rama pindah ke sebuah TK Luar Biasa di kota yang sama. Setelah pindah ke Jakarta, Rama masuk ke sebuah TK Umum (TK Mekar Indah) yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Di TK inilah, Rama belajar sedikit mengenai tulisan latin, huruf, dan angka.
Rama:
“Sekarang Saya dapat membaca dan menulis huruf latin meskipun hanya untuk huruf capital saja.”
1987: SLB di Lebak Bulus kemudian SLB/A Pembina Tingkat Nasional.
Rama:
“Guru Saya bernama Ibu Lilis. Beliau mengajari Saya membaca dan menulis dalam huruf Braille.”
“Pernahkah kalian berada pada saat-saat paling menyedihkan dalam hidup kalian? Saat yang dimaksud adalah ketika kita merasa bahwa cobaan hidup yang diberikan Tuhan sudah tak lagi bisa kita hadapi. Di saat itu, yang ada hanyalah rasa putus asa, dan keinginan yang hilang untuk terus berjuang dan mencoba…”
“Umpama diri kita ini sebuah besi pilihan yang hendak ditempa menjadi sebuah pedang dahsyat. Gimana coba? Besi itu pasti bakal ditempa, dipanaskan, dipahat, atau bahkan direndam dalam cairan pemanas atau dibakar dalam kobaran api. Wah, kasihan ya si besi! Kenapa nggak asal dibentuk aja? Yang penting jadi pedang, gitu aja kan? Ternyata semua baru kelihatan ketika pedang itu rampung. Si besi yang udah habis2an dikerjain itu berubah jadi pedang ampuh yang pilih tanding. Nah, coba bandingin sama pedang yang hanya asal buat — suppose that we use them in one-on-one battle. Kalian semua pasti udah tau hasilnya…”
“Tuhan nggak pernah memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan umat-Nya!”
(Di tengah riuh rendah hujan lebat ini, lamat-lamat terdengar si bungsu sedang otot-ototan dengan ibunya di ruang tamu. Ia mau main hujan-hujanan. Ibunya kemudian menuju ke “kantor” Saya. Mengadu.)
Apakah Rama yang buta sejak lahir bersikap menyalahkan dan tidak mau menerima keadaannya? Tidak! Berikut ini adalah ungkapannya tentang kedua orang tuanya.
Rama:
“Pak, Bu, biar gimanapun kalian, kalian adalah orang-orang yang udah ngejadiin aku sampe seperti sekarang. Biar gimanapun marahnya aku atau kurang ajarnya aku, aku tetap mencintai kalian. Ya Allah, meskipun keburukan aku mencapai 90%, tolong sisain yang 10% dan kasih kesempatan buat aku untuk mendoakan kebahagiaan orangtua aku. I Love You…”
Q: “Sejak kapan Anda menderita kebutaan?”
A: “Sejak Saya lahir. Sebenarnya Saya buta total, tapi berhasil ditolong dengan operasi pembuatan diafragma buatan di mata kanan Saya. Operasi itu memberikan kemampuan untuk melihat sebesar 10%”.
“Setelah itu, Saya masuk ke asrama SLB/A PTN dan mulai menjalani pendidikan di tingkat dasar yang setara SD. Dalam jangka waktu enam tahun, Saya telah belajar banyak dalam hal kemandirian, misalnya mandi, membereskan pakaian, menyapu, mencuci, membersihkan halaman dan bahkan menahan lapar kalau persediaan makanan dan uang saku sudah habis.”
SMP Negeri 226: Tiga tahun. Lulus.
Rama:
“Seandainya Saya bisa bersekolah di sekolah umum…”
“Bapak sampai harus bertengkar dengan kepala sekolah rayon untuk mempertahankan bahwa Saya mampu bersekolah di sekolah umum. Bisa! Itulah jawaban yang diberikan Bapak ketika Pak Kepala Sekolah meragukan kemampuan Saya.”
“Saya dibantu oleh Bapak yang merekam semua buku pelajaran ke dalam kaset (sering merekam hingga larut malam dan bersin-bersin), sementara Ibu membantu dengan do’a dan dukungan moril.”
Madrasah Aliyah Negeri 11: Tiga Tahun. Lulus.
Universitas Darma Persada: Mahasiswa S1 Sastra Inggris.
(Si bungsu tetap ngotot, dan kami seperti tak bisa menahannya lagi. Ia berlari ke pekarangan dengan pakaian lengkap. Main hujan-hujanan.)
Rama:
“Koordinator penerimaan mahasiswa baru, ingin mengembalikan uang pendaftaran Saya dengan alasan universitas tidak memiliki atau menyediakan sarana penunjang bagi tunanetra. Mendengar itu, Bapak dan Ibu bersikeras untuk terus maju. Akhirnya, Saya bersama Bapak menemui Kepala Jurusan Bahasa Inggris. Akhirnya Saya diijinkan mengikuti tes masuk dan berhasil diterima sebagai mahasiswa baru.”
“When an animal sees the world, it explores simply by instinct, thus is set by small capacity of thought, thus is all to say of these such creatures. When a human sees the world, it explores at first by instinct then desire, thus is set by large capacity of thought, thus my will to write of these such creatures…”
“Scientists now state the conservation law this way: Mass-energy may not be created or destroyed, but each may be converted into the other. So then humans, in all their beauty and uniqueness and complexity, are really not special in any regard, because everything is shared and related and recycled. So even long after we die, we still exist somewhere, somehow as mass-energy, always and forever. So therefore, we really have nothing to fear, only to open up and to allow and understand.“
Q: “Maaf, tapi apakah Anda menyesal dengan kondisi cacat yang sekarang Anda derita?”
A: “Kenapa harus menyesal? Lagipula, menyesal tidak ada gunanya. Saya yakin kalau ini adalah karunia terbaik yang diberikan Allah. Karena hilangnya fungsi penglihatan, Saya jadi terhindar dari berbagai dosa mata. Selain itu, semangat hidup Saya jadi meningkat karena dengan kondisi seperti ini, otomatis Saya harus bekerja dua kali lebih keras dari orang normal. Kalau seandainya saja Saya melihat, bisa jadi Saya malah sombong, atau bahkan tidak punya semangat seperti sekarang. Boleh buta mata, tapi jangan sampai buta hati.”
Q: “Apakah Anda pernah memusuhi orang lain?”
A: “Tidak pernah.”
Q: “Apakah Anda pernah membenci seseorang?”
A: “Hampir.”
Q: “Desain home page ini sederhana sekali! Kenapa tidak menyewa webmaster untuk membuat backgroundnya?”
A: “Seperti yang telah dijelaskan di halaman utama bahwa personal home page ini hanya berfungsi sebagai database. Saya meminimalkan penggunaan komponen web untuk mempercepat loading dan mempermudah rekan-rekan tunanetra untuk berselancar di home page ini. Terima kasih untuk tawaran webmasternya, tapi terus terang Saya ingin membuat home page dengan kemampuan sendiri. Kalau tawaran yang diberikan adalah pengajaran atau tutorial, Saya bersedia, karena itu yang Saya perlukan.”
Q: “Kenapa memakai nama Aurora sebagai nama sandi?”
A: “Aurora adalah cahaya yang keluar di waktu fajar. Kita bisa melihatnya kalau berada di Alaska. Cahaya Aurora adalah cahaya paling indah di bumi. Artinya, Aurora adalah sebuah simbol: Meskipun mata Saya gelap, tapi Saya ingin bisa bersinar seperti Aurora.”
Dunia ini indah. Bahkan bagi yang matanya buta.
Dikutip dari:
Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
021-70096855
http://milis-bicara.blogspot.comikhwan dot sopa at gmail dot com
Komunikasi, Motivasi, Leadership
http://milis-bicara.blogspot.com