Karena sebuah kejadian, maka teringatlah cerita 'heroik' yang dilakukan seorang kakak perempuanku, dan kisah ini sungguh menginspirasi diriku.....
Kriiiing..!!!! teleponku minta diangkat. Kulihat, di dispaly, wah....my lovely sister call me! "Assalamu'alaikum, kak? Ada berita apa?" "Waalaikum salam. Iya, katanya Mbak Imah udah gak jualan lagi ya?"
Keluarga Mbak Imah beberapa waktu lalu diberi modal usaha untuk berjualan kecil-kecilan di rumahnya. Sudah punya 3 putra yang masih kecil-kecil. Suaminya penarik becak. Karena Mbak Imah pernah berkesah bahwa dia akan ke Luar Negeri (lagi) sebagai TKW (pembantu RT), aku dan kakakku sekuat tenaga membujuknya untuk tidak melakukan itu. Apalagi anak bungsunya baru berusia 4 bulan. Mungkin, modal usahalah yang dibutuhkan Mbak Imah, pikir kami waktu itu.
Long weekend kemarin, aku kunjungi rumah mbak Imah, dan memang ternyata warungnya sudah tutup. "Merugi terus", katanya. "Apalagi saingannya makin banyak."
"Wah, sayang sekali ya warung Mbak Imah", kakakku melanjutkan,"Sebenarnya sudah kakak tunjukkan beberapa jalan lain, inovasi lain untuk melanjutkan usaha. Namun semuanya ditolak mbak Imah. Dia bilang gak bakat, gak kuat, gak....dsb. Ya sudahlah, mungkin benar dia gak berbakat. Asal bukan karena yang lain saja."
Lalu kakaku bercerita kisah ini. Kisah yang terjadi 20an tahun yang lalu: Aku masih kecil, kelas 3 SD. Sehingga aku tidak dapat mengerti apa yang terjadi pada keluarga kami saat itu. Aku juga tidak mengerti mengapa rumah dan tempat usaha kami dibongkar dan kami dipaksa pindah. Yang aku dapat lihat waktu itu hanyalah kepanikan Bapak dan emak, yang tiba-tiba jadi murung dan suka marah tanpa sebab yang jelas. Yang ku mengerti waktu itu, tiba-tiba saja aku harus berangkat sekolah tanpa sarapan dulu, dan tanpa uang jajan di sakuku. Kakakku ini, kak Rahma, seorang gadis, sudah kelas 2 SMA. Aku pikir, karena "pengabdian" kepada ortu yang luar biasa, mulailah Kak Rahma mencari cara membantu Bapak Emak. Dengan uang yang tersisa hanya Rp10000,- pagi subuh kak Rahma ke Pasar untuk memulai berjualan sayuran. Mencoba mengais rejeki 100-200 rupiah. Sehari, dua hari, tiga hari.......bukan untung yang didapat. Bahkan tak satu orangpun mau membeli dagangan kak Rahma. Tentulah sayuran pada busuk karena sudah 3 hari gak laku. Wah, modal habis. Bagaimana ini? Entah karena kasihan, atau memang benar-benar ingin berlibur, seorang pedagang sayur lain memanggil kak Rahma. Katanya pada kak Rahma, bahwa dia besok hingga 3 hari ke depan tidak bisa jualan karena harus pulang kampung. Kebetulan dagangannya masih banyak, maka kak Rahma dimintanya untuk 'menjualkan' sisa dagangannya. Keuntungannya dibagi, sambil menempati lapak jualannya agar tidak ditempati orang lain. Waktu itu, ada aturan tidak tertulis diantara pedagang sayur "lesehan" di pasar, yaitu: jika lapak kosong selama 2 hari, maka lapak/tempat jualan itu boleh di'serobot' orang lain yang ingin berjualan. Inilah awalnya. Dengan dagangan yang berlimpah, dan tentunya tanpa modal, dan mempunyai 2 lapak (1 lapak sendiri, satunya lapak pinjaman pedagang sayur tadi), dimulailah "petualangan baru gadis penjual sayur". Apalagi pedagang sayur yang 'liburan' tadi sudah mempunyai banyak pelanggan, maka sepertinya kesulitan 'mencari pelanggan' sudah GO OUT! Perlahan tapi pasti, 'bisnis' kak Rahma maju. Dalam beberapa bulan, kak Rahma dan ibu sudah bisa punya tempat yang lebih baik (kios) dan tidak lagi berjualan sayur, tetapi warung makan! "Warung sarapan" kupikir lebih tepat, karena warung kak Rahma dan Emak memang hanya buka pagi hari, mulai jam 4 subuh hingga jam 9 pagi. Bukan apa-apa, karena kiosnya memang berada di Pasar Pagi. Dan satu hal yang pasti: "Aku bisa sarapan sepuasku sebelum berangkat sekolah.....hahahahaha....horeeee" Norak? Biarin aja, namanya juga masih anak-anak.....
Yang paling berkesan dihatiku hingga saat aku menulis ini, adalah.... Kekuatan dan kepercayaan hati kak Rahma untuk tetap berjualan meski tak satupun barang yang laku selama 3 hari....dan benar, pertolongan Allah tidak pernah terlambat bagi orang yang meyakininya. *)Kak Rahma sekarang sedang menyelesaikan S2 di ITS, mempunyai 3 nak, 1 putra 2 putri. Staf Pengajar di Politeknik Unsyiah Lhokseumawe, semaoga ALLAH memuliakan kakaku ini...amiiin.
 | wah pak, jadi keingetan waktu SD dulu.. saya gak ngerti kenapa saya harus pindah dari sekolah yg sudah ok, ke sekolah lumayan butut.... trus biasanya saya langganan becak, harus jalan kaki yang lumayan jauh..... rupanya ayah sy tertipu, dan bikin beliau 'agak susah'..... saya dan adik saya akhirnya mendapat 'permainan' baru. mengantar termos berisi es mambo ke warung... warung.... dan mengambil 'hasil'nya di sore hari... tapi enjoy aja tuuuhh.... sekarang tinggal menjadi kenangan manis....salam tuk kak Rahma pak.... |
 | Salut buat kak Rahma! Bener2 inspiring story.. Memang usaha itu harus kita yakini, telateni, dan cintai.. Suatu hal yg ga mudah.. Bagian yg paling enak adalah saat kita memetik manisnya buah hasil keringat dan air mata.. Emang Gusti Allah mboten sare ya pak.. (udh bs bhs Jawa dikit2 nih).. |
 | Benar-benar inspiratif, Pak ... *ambil hikmah mode on* |
 | ngomong2 maenan termos, awak juga pernah dulu pas esde. awak maksa untuk njual es buatan mamak karena ngiler ngliat temen2 dapet duit & es gratis tiap hari karena ngiderin esnya mamak. hasilnya luarrrr biasa : LAKU LIMA. sebagian tak makanin sendiri ajah...he..hee.. BTW, koq Mas dulu gak pernah cerita sih... |
| |