
Karena tangan kananku sering kesemutan sebagai efek sakit punggung yang tak kunjung sembuh, kemarin (14/2/2008) aku diterapi di
ATFG8 . Lumayan juga, tangan dan pungungku sudah agak baikan. Lalu apa hubungannya dengan sate?
Nah ini dia!
Aku di terapi
ATFG8 sekitar 60 menit, waktu yang cukup lama buatku dan sang
terapist untuk saling bercerita. Apalagi antara kamar terapi hanya diberi batas tirai dari kain yang otomatis kita juga dapat berinteraksi dengan pasien dan juga terapist dari kamar sebelah.
"Pak suka makan sate kambing?"
"Ya saya suka sate kambing", jawabku,"Emang kenapa, Pak?"
Lalu si
terapist pun bercerita dan dengan sangat lancar mengeluarkan petuah-petuah tentang kolesterol, lemak jenuh, hingga darah dan kesehatan jantung. Diskusi jadi tak terelakkan, apalagi ternyata pasien dan terapist dari kamar sebelah ikut nimbrung.
"Wah, saya malah 26 kali dalam sebulan, makan sate kambing", ujar pasien dari kamar sebelah. "Jadi nyaris setiap hari makan sate, kecuali saya libur gak dinas", lanjutnya.
Waaaks? aku dan terapist ku sama-sama terperanjat, terperangah,...
gedeg-gedeg....Masya ALLAH. Hebat betul nih Bapak.
Usut punya usut, ternyata si bapak ini mempunyai masalah kolesterol dan asam urat kronis. Ya pantes aja, Pak....tiap hari makanannya begitu....trus tinggal di Indonesia lagi..kalau di kutub Utara sih mungkin masih mending...memang butuh daging dan lemak yang banyak untuk mengatasi hawa dingin.
Usut punya usut lagi, si Bapak beberapa tahun ini bekerja di tepi jalan pertigaan Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman Yogyakarta sebagai.......................POLANTAS !
Lah, trus apa hubungannya pula POLANTAS dengan sate kambing?
Ini yang menyesakkan dadaku, dan aku langsung kehilangan semangat untuk berkata-kata lebih lanjut. Menurut cerita 'beliau' (sang POLANTAS), ada
tradisi khusus dilingkungan 'kerja' mereka. 'Hasil' yang diperoleh hari itu dibagi bersama sesama petugas jaga dengan cara: "MAKAN SATE KAMBING" di warung seberang jalan.
"Uang apa, pak yang dibagi-bagi?", terapist nya bertanya lugu (atau pura-pura lugu kali...yee).
Cerita 'beliau' berlanjut terus, "Ya, uang denda tilang...auhhh...", sambil kesakitan. (kelihatannya si
terapist agak jengkel juga tuh...mijetnya keras banget sampe 'beliau' teriak..hehehehe...)
Lah, bukankah denda tilang seharusnya masuk kas negara? Bukan ke kas tukang sate...
Alamak, ternyata benar kecurigaan sebagian besar masyarakat tentang uang denda tilang yang tidak pernah masuk ke kas negara....
tapi masuk ke kas..........entah kemana......