Setelah berkeliling di beberapa pesantren di Jawa barat, temanku yang bekerja untuk sebuah rumah produksi bercerita:
Di Kuningan, di daerah Sangkan Hurip, ada sebuah peantren sederhana "Ainurrafiq". Pendirinya adalah Bapak H.Raffiq, hanya lulusan SR (Sekolah Rakjat- SD sekarang). Beliau mempunyai cita-cita yang luar biasa, yaitu memiliki pesantren yang ada sekolah formalnya. Dananya tidak minta dari siapa-siapa... "Usaha sendiri", katanya.
Ada yang unik pada bangunan pesantren ini, yaitu lantai keramik tidak kotak-kotak teratur sebagaimana layaknya lantai keramik, tapi lantai keramik bangunan pesantren ini berasal dari keramik sisa, yang pecah-pecah. Pun kaca-kaca yang digunakan, juga dari sisa-sisa buangan.
Bukan sekedar unik, ternyata filosofinya itu yang membuat hati ini bergetar mendengarnya: Menurut beliau keramik apapun bentuknya tetap keramik, punya derajat yang sama. Dari serpihan-serpihan kecil itu bisa menjadi sesuatu yang hasilnya malah lebih indah daripada keramik yang utuh.. dan dengan begitu cost yang dikeluarkan lebih rendah dan sisa uangnya...bisa dimanfaatkan untuk membangun hal lainnya.
Seperti halnya manusia, yang kaya atau miskin, derajatnya sama didepan Allah SWT. Hanya kadang tidak sadar bahwa yang kelihatan miskin juga puya banyak potensi jika dikaryakan dan mau berkarya.
Lebih terkejut lagi ketika diajak ke salah satu pojok masjid, ada sebuah ruangan yang dikunci rapat, dan ternyata setelah dibuka adalah dua lubang di tanah yang telah beliau persiapkan untuk kuburnya dan istrinya kelak. Wow....apa pula ini? "Biar selalu ingat jalan pulang", kata beliau penuh makna..., biar selalu bisa beribadah lebih baik dan lebih baik lagi.....(hmmmm merinding aku..-red).
"Dah gitu tuh bapak seneng banget kerja ma kuli-kuli, katanya, kita di anugerahi tenaga ya harus di manfaatkan semaksimal mungkin. Dan bisa menjadi contoh buat santri serta anak-anaknya bahwa kekayaan tuh bukansegalanya. Walo sekaya apapun kalo sekali makan ya cuma bisa 1-2 piring aja, mobil sebanyak apapun cuma bisa kita naikin satu. Makanya beliau ga pernah ragu untuk selalu meberi dan meberi kepada sesama yang membutuhkan. Karena malah dari situ balasannya mendapat rezeki yang lebih banyak", temanku mengakhiri ceritanya.
(thx to sally eh windy alumnus MP UGM 98, ceritamu aku sadur jadi seperti ini...gak papa ya? hehehe...)
 | subhanallah... terimakasih Mas. Semoga saya dan keluarga juga selaliu di :"eling" kan pada jalan plg, hingga tidak lupa diri...amin :) |
 | banyak cara untuk tetap 'ingat jalan pulang'.... aku pilih cara yang lain aja ach! maksudnya yg kecil2 aja... kalo kamar terkunci, sepertinya kebesaran dan........ |
 | apik .....normal dan jujur
|
| |