Ayah BUKAN ORANG bijaksana! Betapa kagetnya saya, ketika terlontar kalimat diatas dari mulut anak saya. Ini bermula dari sebuah pertanyaan sederhana ketika kami sedang jalan-jalan di sebuah swalayan grosir.
“Ayah apa sih yang dimaksud bijaksana itu?” Anakku itu berharap jawaban yang pas, karena sepertinya dia sudah tahu sedikit tentang kata itu dari guru kelasnya di sekolah.
Dengan enteng saya menjawab, “Bijaksana itu orang yang bisa memberi putusan yang benar.”
“Berarti Ayah bukan orang bijaksana, dong!”.
Loh koq bisa, memangnya apa yang telah saya lakukan. Saya mencoba introspeksi diri.
Dan Akhirnya dia menjelaskan, “Lah itu adek dibelikan baju, aku koq tidak?”
Dari sini mulai terungkap, ada kejadian lain yang sebelumnya menjadi tanda tanya saya, mengapa ini ia lakukan. Anak saya ini menyembunyikan payung kecil yang sedianya mau dibelikan untuk adeknya, dan akhirnya nggak jadi terbeli.
Sebagaimana sifat yang lain, sifat iripun membutuhkan suatu pembelajaran bagaimana mengelolanya sehingga bukan lagi menjadi sifat yang merugikan tapi malah menguntungkan. Karena bagaimanapun, manusia tidak lepas dari sifat iri ini. Tapi dengan selalu belajar mengelolanya tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Saya memang harus berterima kasih banyak pada anak saya atas kejujurannya sehingga semuanya dapat didiskusikan dengan baik. Dengan panjang lebar, kami (saya dan istri saya) mencoba menjelaskan lebih jelas alasan semua pertanyaannya dan arti sebenarnya dari sebuah bijaksana dengan contoh-contoh sederhana. Bahwa bijaksana juga harus disesuaikan dengan kebutuhan. Dan tidak semua yang sama itu berarti adil dan bijaksana.
Dari segi pengertian, saya yakin seyakin-yakinnya, dia telah faham apa yang kami jelaskan. Tapi dari segi perasaan dia saya tidak tahu dan sepertinya masih cukup mengganggu. (Kisah diatas adalah seperti yang dikisahkan seorang teman: Pak Ahmad Daniyal dengan anaknya, thx pak.)
Keadilan dan kebijaksanaan gender!
Saya jadi teringat pertanyaan yang sama juga pernah dilontarkan seorang perempuan kepadaku. Namun dalam perspektif yang berbeda.
Katanya, “Budaya kita dan juga agama kita sangat tidak adil dan bijaksana terhadap perempuan!”
Wah, ini masalah berat, pikirku. Mengapa perempuan harus menutup auratnya sedemikian rupa, sedangkan lelaki (bahkan dalam sholat, dan sholatnya sah) boleh saja berpakaian hanya sebatas lutut dan pusar. Keyakinanku, tidak mungkin Tuhan membuat aturan yang tidak adil dan bijaksana. Mulailah aku mencari-cari…
Kutanya-tanya beberapa teman laki-laki juga perempuan untuk mengetahui seperti apa sih sebenarnya persamaan dan perbedaan dua makhluk yang berasal dari dua planet berbeda ini? (kan lelaki dari Mars, sedang Perempuan dari Venus …hehehe) Kubuatlah survei kecil-kecilan, walaupun mungkin surveiku tidak mengikuti aturan baku ilmu statistik, tapi cukuplah untuk dijadikan gambaran awal.
Pertanyaan surveinya begini:
Apa sih tujuan kalian ngeceng di mall atau tempat ngumpul-ngumpul anak muda? Untuk “melihat-lihat” atau untuk “dilihat-lihat”? Respondennya: 20 orang perempuan dan 20 orang lelaki.
Hasilnya: 18 orang lelaki menjawab untuk “melihat-lihat”. 20 orang perempuan menjawab untuk “dilihat-lihat”. Kira-kira anda jawab yang mana?
Pasti ada yang dapat kusimpulkan dari hasil ini, tapi biarlah itu kesimpulanku sendiri, dan silahkan menyimpulkan sendirilah… aku tak ingin sok pandai disini, karena aku memang bukan siapa-siapa ….